Karawang || Patriotjabar.com – Tim investigasi media Patriot Jabar melakukan pemantauan intensif terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah lembaga pendidikan dan Posyandu di wilayah Kabupaten Karawang. Dalam pantauan tersebut, tim menemukan adanya indikasi ketidak sesuaian standar porsi pada salah satu Sekolah Menengah Atas (SMAN) di wilayah Kecamatan Tirtajaya.
Temuan lapangan menunjukkan bahwa menu yang diberikan kepada para pelajar dan pengajar terdiri dari empat komponen utama yang dinilai janggal untuk kategori tingkat SMA. Komposisi tersebut meliputi satu butir telur ayam, satu kotak susu kemasan ukuran 110 ml, satu bungkus roti, juga satu buah apel.
Angga, selaku Asisten Lapangan program MBG di lokasi dapur Desa Sarijaya, memberikan penjelasan mengenai klasifikasi porsi yang diterapkan. Menurutnya, terdapat pembagian kategori yakni P1 untuk tingkat TK hingga SD kelas 3, sementara kategori P2 diperuntukkan bagi siswa kelas 4 SD hingga jenjang SMA. Meski demikian, Angga membenarkan bahwa empat jenis menu itulah yang disalurkan kepada SMAN 1 Tirtajaya.
“Menu porsi itu berbeda beda ada dua kategori yang biasa disebut P1 dan P2, mulai dari TK sampai SD kelas 3 itu masuk dalam P1 lalu Kelas 4 sampai jenjang berikutnya masuknya P2 termasuk Posyandu,Ya benar 4 jenis porsi menu yang di salurkan ke SMA 1 Tirtajaya berasal dari dapur ini,” ucapnya.
Saat dikonfirmasi mengenai rincian harga satuan dari setiap komponen makanan tersebut, Angga mengaku tidak mengetahui secara pasti nilai anggaran per itemnya. Namun, ia menyebutkan satu pengecualian terkait harga roti kemasan produk UMKM yang disajikan, yakni senilai Rp 4.000 per bungkus. Ketidaktahuan mengenai rincian harga sisa komponen lainnya menimbulkan pertanyaan terkait transparansi pengelolaan anggaran.
“Untuk harga nominal satuan menu saya tidak tau, itu bidangnya Kepala Dapur,kecuali Roti bungkus harga satuanya Rp 4.000,karena itu produk UMKM,”tambahnya.
Guna mendapatkan klarifikasi lebih mendalam mengenai standar gizi dan prosedur penyajian menu, awak media berupaya menemui Kepala Dapur, Sahid. Namun, upaya konfirmasi tersebut belum membuahkan hasil. Informasi dari pihak di lokasi menyatakan bahwa yang bersangkutan sedang dalam kondisi badanya kurang sehat sehingga tidak dapat memberikan keterangan resmi.

Lebih lanjut, Angga mengungkapkan bahwa seluruh pasokan bahan baku atau menu porsi tersebut berasal dari supplier yang merupakan mitra koperasi di wilayah Cibuaya. Dalam keterangannya, ia menyebutkan nama Ishal sebagai pihak yang terlibat dalam rantai pasok distribusi logistik program MBG untuk wilayah koordinasi mereka di Desa Sarijaya.
“Menu porsi makanan kita ngambilnya di Koperasi daerah Cibuaya yang mana nantinya di distribusikan ke dapur kami,mitra juga H.Ishal,” ujarnya.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Sarijaya sendiri mengemban tanggung jawab yang cukup besar dalam distribusi program ini. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Awak Media SPPG tersebut menyalurkan total 2.768 porsi makanan setiap harinya. Cakupan distribusinya meliputi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan menjangkau kebutuhan di tingkat Posyandu.
Dugaan Kejanggalan pada menu salah satu lembaga pindidik tingkat SMA di wilayah Kecamatan Tirtajaya ini memicu kekhawatiran mengenai efektivitas pemenuhan gizi bagi pelajar usia remaja. Pemberian satu butir telur ayam ,satu buah apel, satu kotak susu kecil (110 ml),dan satu bungkus roti dinilai belum ideal jika disandingkan dengan target harga porsi dari pemerintah, yang mana tujuan tentunya untuk meningkatkan standar kesehatan dan kecerdasan siswa melalui asupan protein dan nutrisi yang cukup.
Menindaklanjuti temuan ini, tim media Patriot Jabar akan melakukan upaya konfirmasi lanjutan secara terjadwal kepada Kepala Dapur SPPG Desa Sarijaya guna mendapatkan penjelasan teknis yang komprehensif. Pasalnya, saat peninjauan langsung ke lokasi dapur, baik Kepala Dapur maupun tenaga ahli gizi tidak berada di tempat, sehingga informasi mengenai standar operasional prosedur (SOP) penyajian menu diduga menjadi tidak berimbang.
Selain itu, awak media juga berencana meminta keterangan resmi dari ahli gizi independen untuk membedah apakah kombinasi satu butir telur ayam, satu kotak susu 110 ml, roti, dan satu buah apel tersebut sudah memenuhi standar cakupan nominal dan pemenuhan standar gizi yang sudah di tetapkan Pemerintah. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara yang dikelola oleh SPPG benar-benar bertransformasi menjadi gizi berkualitas bagi generasi penerus bangsa.
(Gunawan)






Komentar