Pedagang Eceran Bensin diKarawang Keluhkan Kenaikan Subsidi BBM

Berita, Daerah3,922 views

Karawang || Patriotjabar.com – Pemerintah resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Para penjual bensin eceran di perkampungan atau wilayah terluar seperti perbatasan kabupaten/kota juga ikut naik.

Diketahui, pedagang bensin eceran memang masih ilegal. Mereka hanya dibekali dengan surat izin atau keterangan dari pemerintah desa setempat.

Samsul (37), salah satu pedagang bensin eceran asal Dengklok selatan, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang mengaku memulai usaha bensin eceran sejak tiga tahun lalu. Dari usaha itu ia mengaku tak mendapat untung banyak.

“Untungnya kecil, tapi BBM ini termasuk kebutuhan pokok, jadi pasti selalu dibeli setiap hari,” kata Samsul saat ditemui di warung bensin ecerannya, Jumat (09/09/2022).

Para pembeli bensin eceran, kata Samsul, mayoritas adalah tukang ojek dari pasar Rengasdengklok.

“Kebanyakan tukang ojek, biasanya mereka ngojek nganter pedagang belanja ke pasar waktu subuh, jadi mayoritas pembeli juga warga kecil yang berhak mendapat subsidi,” kata dia.

Ia hanya menyediakan Dua jenis BBM, yakni, Pertalite dan Pertamax. Dari Kedua jenis BBM tersebut, Pertalite lah yang paling laku dijual. Oleh karenanya ia belanja pertalite lebih banyak.

“Pertalite ini bisa dua rit kalau belanja, soalnya kan belanja sewa mobil karena nggak boleh pakai jerigen, kalau pertamax dan solar cukup satu rit, jadi jika di total rata-rata 40 liter Pertalite, 20 liter pertamax, dan 20 liter Solar, itu baru habis dalam seminggu,” kata dia.

Solar sendiri kata Samsul, mayoritas dibeli oleh para petani dan pelaku usaha penggilingan padi yang ada di sekitar wilayah Warudoyong, yang semuanya juga termasuk usaha kecil.

Sejak kenaikkan BBM Pertalite dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000, Pertamax dari 12.500 menjadi Rp 14.500, dan Solar dari harga Rp 5.150 menjadi Rp 6.800, samsul juga merasa kebingungan menjual harga bensin eceran Kalo full perbotol saya jual 13.000, kalo botol gafull saya kurangin harganya jdi 12.000.

“Kalau Pertalite ini kan biasanya dijual Rp 10 ribu perliter itu kita bisa untung seribu rupiah, kalau sekarang pas naik, saya coba jual Rp 12 ribu gak ketemu untungnya, dijual Rp 13 ribu juga dikomplain pembeli, jadinya bingung menjual berapa,” imbuhnya.

Alhasil, warung bensin eceran Samsul kesepian pembeli, dan mengalami penurunan omset yang signifikan, imbas bingungnya penentuan harga jual bensin eceran tersebut.

Terpisah, wiwi (39) pedagang bensin eceran di Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang menuturkan, ia sudah mematok harga pertalit Rp 14.000 perbotol.

Sejak harga BBM naik, ia juga kehilangan pembeli, “Sejak tanggal 3 pas naik itu memang gak ada, padahal saya belanja sudah kesulitan karena antri sampai tengah malam,” kata dia.

Ia menyebut, berkurangnya jumlah pembeli disinyalir karena naiknya harga jual yang cukup mahal dari pedagang bensin eceran.

“Biasanya sehari lebih 40 liter saya jual, karena memang letak saya ini berada di jalan raya menuju Rengasdengklok, Tapi sejak tiga hari kemarin saya cuma bisa jual 20 literan,” ungkapnya.

Wiwi menuturkan, omsetnya yang menurun cukup signifikan, juga membuatnya cemas pada masa depan usaha yang digelutinya tersebut.

“Kalau gini terus gak tahu ni, soalnya kita juga hidup dari sini, sumber penghasilan ya dagang bensin eceran,” ujarnya.

(Iyan)

Komentar