Sukabumi || Patriotjabar.com – Perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu bumi kini menjadi ancaman nyata bagi kehidupan manusia dan lingkungan.
Kondisi ini, memunculkan pertanyaan besar, sudah siapkah manusia sebagai “leader” dalam menghadapi krisis iklim yang semakin kompleks?
Pemerhati lingkungan, Taufik Ocel, menilai bahwa pemanasan global terjadi akibat meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer, seperti karbon dioksida dan metana, yang dihasilkan dari aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, serta aktivitas industri.
“Awalnya, matahari mengirimkan radiasi ke bumi, lalu bumi memantulkan kembali dalam bentuk panas. Tapi karena gas rumah kaca, panas itu terjebak dan kembali lagi ke permukaan bumi, sehingga suhu terus meningkat,” ujar Taufik, Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, daratan dan lautan menyerap sebagian panas tersebut. Namun, kerusakan lingkungan, terutama pencemaran laut, membuat kemampuan alam dalam menyerap panas menjadi terganggu. Akibatnya, suhu air laut meningkat dan mempercepat pencairan es di kutub.
Menurutnya, dampak dari mencairnya es kutub sangat luas, mulai dari kenaikan permukaan air laut yang berpotensi menenggelamkan wilayah pesisir, banjir rob, hingga intrusi air laut ke dalam sumber air tanah yang mengakibatkan air tidak lagi layak konsumsi. Selain itu, pelepasan gas metana dari lapisan es juga memperparah pemanasan global.
“Kalau ini terus terjadi, kita tidak hanya menghadapi krisis lingkungan, tapi juga krisis pangan dan air. Bencana akan makin sering terjadi, baik banjir saat musim hujan maupun kekeringan saat kemarau,” tegasnya.
Lebih lanjut, Taufik menyebutkan bahwa perubahan iklim dipicu oleh beberapa faktor utama, yakni efek gas rumah kaca dari emisi karbon, perubahan penggunaan lahan seperti deforestasi, serta aktivitas industri dan energi yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Selain itu, ia menyoroti kondisi pembangunan saat ini yang dinilai semakin jauh dari prinsip ramah lingkungan. Banyak ruang terbuka hijau dan lahan resapan air yang beralih fungsi menjadi kawasan beton dan aspal, sehingga memperparah dampak pemanasan global.
“Lahan hijau terus berkurang. Padahal itu penting sebagai penyeimbang suhu dan resapan air. Kalau terus dibiarkan, dampaknya akan semakin besar,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Taufik mendorong adanya langkah nyata dari semua pihak, baik pemerintah, industri, maupun masyarakat. Upaya tersebut antara lain menghemat energi, mengelola sampah dengan baik, menghentikan deforestasi, serta mendorong penggunaan energi terbarukan.
“Masih banyak potensi energi ramah lingkungan seperti angin dan air yang bisa dimanfaatkan. Jangan hanya bergantung pada energi fosil,” katanya.
Ia juga menyinggung rencana pengembangan energi panas bumi (geothermal) di wilayah Cianjur dan Cisolok agar dilakukan dengan mempertimbangkan dampak lingkungan secara matang.
Dengan kondisi yang semakin mengkhawatirkan, ia menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar isu, melainkan ancaman nyata yang membutuhkan kesadaran dan tindakan bersama.
“Kalau tidak mulai sekarang, kita tinggal menunggu dampak yang lebih besar. Alam akan memberi respon dari apa yang kita lakukan hari ini,” pungkasnya.
(Red)









Komentar